Jumat, 07 Mei 2010

ANALISIS PENERAPAN FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP PENINGKATAN EARNING PER SHARE (Studi kasus : PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Selama ini banyak hal yang muncul di Bursa Efek yang mencerminkan belum menggunakan laporan keuangan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan investasi sahamnya tanpa dilakukan analisis terlebih dahulu. Masih banyak investor yang menggunakan perkiraan semata dalam melakukan investasi. Cara demikian, jelas berisiko dan cenderung tidak menguntungkan, karena perlu dipikirkan resiko dalam memilih saham yang ditawarkan. Jika ingin melakukan investasi di Pasar Modal maka dana yang dikehendaki, kita investasikan dan harus ada tujuan investasi yang jelas, target yang akan dicapai dan wahana dalam Pasar Modal. Investor yang melakukan penanaman modal dalam bentuk saham diharapkan melihat kecenderungan perkembangan harga saham dan besarnya volume perdagangan saham di Bursa Efek, sebagai salah satu indikator yang penting guna mempelajari kinerja suatu perusahaan.
Dalam proses pengambilan keputusan investasi, seorang investor pada akhirnya memerlukan suatu informasi akuntansi guna menilai, mengevaluasi, dan memprediksi keadaan keuangan perusahaan serta layak tidaknya investor menginvestasikan dananya pada saham perusahaan tersebut. Maka perusahaan tersebut harus mengambil keputusan dari berbagai alternatif dengan metode yang ada.
Salah satu tujuan dalam pemilihan berbagai alternatif dengan metode pembelanjaan adalah untuk memperbesar pendapatan bagi pemilik modal sendiri atau pemegang saham biasa tersebut.
Dalam profitabiltas, stabilitas dan besarnya earning yang diperoleh oleh suatu perusahaan akan menentukan apakah perusahaan tersebut dibenarkan untuk menarik modal dengan beban tetap atau tidak. Suatu perusahaan yang mempunyai “earning” yang stabil akan selalu dapat memenuhi kewajiban finansialnya sebagai akibat dari penggunaan modal asing. Sebaliknya perusahaan yang mempunyai “earning” tidak stabil akan menanggung resiko tidak dapat membayar beban bunga atau tidak dapat membayar angsuran-angsuran utangnya pada tahun-tahun atau keadaan yang buruk, sehingga dapat memperkecil pendapatan per lembar saham. Dalam financial leverage penggunaan sumber dana tetap yang memiliki beban tetap seperti hutang jangka panjang dan modal saham dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham.
Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengambil penelitian dalam penulisan ilmiah. Dengan demikian penulis mengambil judul ” ANALISIS PENERAPAN FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP PENINGKATAN EARNING PER SHARE (Studi kasus : PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk).”

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka Penulis merumuskan masalah pada penulisan ilmiah ini adalah bagaimana perhitungan earning per share (EPS) yang akan dihasilkan PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk. untuk memperbesar pendapatan per lembar saham dan bagaimana peningkatan Earning per Share melalui analisis financial leverage sebagai akibat perubahan earning before interest and tax (EBIT) .

1.3 Batasan Masalah
Dari uraian diatas maka penulis membatasi pembahasan dengan hanya melakukan analisis financial leverage menggunakan metode indifference point yaitu : antara hutang dengan saham biasa. Data yang diteliti dibatasi hanya untuk tahun 2004-2006.

1.4 Tujuan Penelitian
Dengan mengacu terhadap rumusan masalah diatas,maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui berapa besarnya earning per share (EPS) yang akan dihasilkan PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk.
2. Untuk mengetahui peningkatan Earning per Share melalui analisis financial leverage sebagai akibat dari perubahan earning before interest and tax (EBIT).

1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang diperoleh yaitu diantaranya:
1. Dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai perhitungan financial leverage terhadap earning per share pada PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk. dan dapat membuka wawasan terhadap keadaan dunia kerja yang sesungguhnya serta dapat mencoba untuk mempraktekkannya terhadap teori-teori yang pernah diterima selama pendidikan.
2. Bagi peniliti sendiri dapat menambah pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana berpikir ilmiah, selain itu dapat juga memberikan pengetahuan bagi penulis tentang bagaimana menerapkan teori mengenai financial leverage ini kedalam praktek lapangan.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Kerangka Teori
2.1.1 Tinjauan Mengenai Analisa Financial Leverage
Leverage financial menyangkut penggunaan dana yang diperoleh dari hutang atau mengeluarkan saham preferen. Penggunaan dana tersebut menimbulkan biaya tetap yaitu bunga atau deviden (Horne and John, 1992). Apabila semua dana berasal dari modal sendiri, perusahaan tidak terikat dengan kewajiban tetap untuk membayar kas secara periodik.
Bunga dan deviden saham preferen merupakan biaya tetap financial yang harus dibayar tanpa memperdulikan tingkat laba perusahaan. Pada penambahan biaya tetap financial akan meningkatkan ketidakpastian tingkat return bersih yang diterima para pemegang saham biasa. Saham biasa merupakan pemilik perusahaan terbatas pada modal yang disetorkan dan menanggung risiko perusahaan.
Leverage yang menguntungkan (favorable) terjadi apabila perusahaan memperoleh keuntungan lebih besar dari dana yang “dibeli” tadi daripada biaya tetap penggunaan dana tersebut. Leverage yang negatif (unfavorable) terjadi apabila keuntungan dari penggunaan dana tersebut tidak cukup besar untuk menutup biaya dana tersebut. Menguntungkan tidaknya financial leverage atau biasa disebut juga sebagai “trading on equity “, dilihat dari pengaruhnya terhadap laba per lembar saham biasa.
Leverage financial disini kita menentukan hubungan antara laba per lembar saham (earning per share – EPS) dengan laba sebelum bunga dan pajak (earning before interest and taxes - EBIT). Karena itu analisis financial leverage memusatkan perhatian pada perubahan laba setelah pajak sebagai akibat perubahan laba operasi, Degree of financial leverage menunjukkan perbandingan antara perubahan laba setelah pajak dengan perubahan laba.
Untuk memudahkan dalam menganalisis financial leverage dibutuhkan alternatif-alternatif pembelanjaan yang berbeda-beda, dan analisis titik kesamaan (indifference points) masing-masing alternatif pembelanjaan tersebut dan tingkat financial leverage (degree of financial leverage = DFL).
Leverage merupakan kemampuan perusahaan untuk menunjukkan perubahan yang menonjol akibat dari perubahan lain yang kecil. Menurut Schall dan Haley (1983) leverage merupakan keberadaan biaya tetap diantara biaya-biaya yang terjadi di perusahaan. Leverage ini disebut leverage operasi. Leverage operasi mencerminkan pengaruh besarnya biaya tetap terhadap laba perusahaan. Dalam hal ini perubahan biaya tetap yang kecil akan mengakibatkan perubahan laba yang besar. Biaya tersebut misalnya; biaya administrasi, penyusutan, advertensi dan pajak yang besarnya tetap. Sedangkan leverage yang ditentukan oleh finansial disebut leverage finansial, yaitu perubahan biaya finansial (yang sifatnya tetap) yang lebih kecil akan mengakibatkan perubahan laba yang besar. Misalnya; biaya bunga, biaya pinjaman dan lain-lain yang berhubungan dengan hutang. Dengan demikian sebagaimana dinyatakan oleh Levy dan Sarnat (1990) leverage finansial merupakan pendanaan hutang yang mengakibatkan beban tetap yang dapat mempengaruhi earning dan earning per share serta varian atau risiko.
Besar kecilnya leverage sangat tergantung pada kondisi ekonomi. Weston dan Brigham (1993) menyatakan bila kondisi ekonomi bagus, sangat memungkinkan perusahaan dapat menutup cost of capital dari hutang, maka leverage yang tinggi akan lebih menguntungkan. Sedangkan pada kondisi kontraksi ekonomi, penggunaan leverage yang tinggi tentu merugikan. Dengan demikian bila retun on assets melebihi cost of debt, maka leverage menguntungkan dan semakin tinggi leverage factor maka akan semakin tinggi rate of return bagi pemegang saham biasa.

2.1.2 Pengertian Financial Leverage
Dibawah ini ada beberapa pengertian tentang financial leverage menurut beberapa para ahli, yaitu
 Menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland, memberikan pengertian tentang faktor leverage atau degree of financial leverage untuk mengukur tingkat leverage keuangan dalam suatu perusahaan sebagai berikut :
“Tingkat leverage keuangan didefinisikan sebagai rasio persentase perubahan laba bersih yang tersedia untuk para pemegang saham dengan persentase perubahan laba sebelum bunga dan pajak”.
 Menurut Bambang Riyanto, pada financial leverage, penggunaan dana dengan beban tetap adalah dengan tujuan untuk memperbesar pendapatan per lembar saham biasa atau dikenal dengan istilah EPS = Earning per Share.
 Sedangkan menurut Agus Sartono :“Financial leverage menunjukkan perubahan laba per lembar saham atau Earning per Share (EPS) sebagai akibat perubahan earning before interest and tax (EBIT)”.
Financial leverage adalah penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Dengan demikian alasan yang kuat untuk menggunakan dana dengan beban tetap adalah untuk meningkatkan pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham.
• Pengertian leverage menurut Dr. Suad Husnan, M.B.A (1997, hal 611) :
“Leverage merupakan kekuatan pengungkit, yaitu dari kata dasar lever yang berarti pengungkit.”
• Pengertian leverage menurut buku panduan praktikum manajemen keuangan :
“Leverage dapat didefinisikan sebagai penggunaan aktiva atau dana dimana untuk penggunaan tersebut perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap.”

• Pengertian financial leverage menurut e-samuel (www.e-samuel.com , April 18, 2007, 2:20:31 pm), yaitu :
“Financial leverage itu adalah untuk memperbesar pendapatan per lembar saham biasa (EPS = Earning per Share).

2.1.2.1 Penggolongan Leverage
Leverage digolongkan kedalam dua bagian , yaitu :
 Analisis operating leverage
Analisis operating leverage dimaksudkan untuk mengetahui (1) seberapa peka laba operasi terhadap perubahan hasil penjualan, dan (2) berapa penjualan minimal yang harus diperoleh agar perusahaan minimal tidak menderita rugi.
Sebelum kita membicarakan lebih lanjut marilah kita definisikan apa yang dimaksud dengan biaya tetap dan biaya variabel.
• Biaya tetap adalah biaya yang secara keseluruhan tidak berubah, meskipun unit yang dihasilkan mengalami perubahan. Contohnya adalah gaji para pemimpin, penyusutan, asuransi dan lain-lain. Tentu saja tidak berubahnya biaya tersebut adalah terbatas dalam suatu kisar (range) tertentu.
• Biaya varibel adalah biaya yang berubah-ubah (jumlah totalnya)
sesuai dengan perubahan kapasitas produksi (unit yang dihasilkan). Contohnya : biaya bahan mentah, biaya tenaga kerja kalau buruh dibayar berdasarkan unit yang dihasilkan, dan lain-lain.
 Analisis financial leverage
Penggunaan hutang sebagai sumber pendanaan bagi perusahaan dapat digunakan untuk mengangkat kinerja perusahaan tersebut. Dari hutang tersebut mempunyai beban tetap yang berupa bunga.

2.1.2.2 Kombinasi Antara Financial Leverage dan Operating Leverage
Apabila financial leverage dikombinasikan dengan operating leverage, pengaruh perubahan penjualan terhadap laba per lembar saham menjadi makin besar. Kombinasi kedua leverage tersebut meningkatkan penyebaran dan risiko dari berbagai kemungkinan laba per lembar saham. Untuk menentukan pengaruh perubahan unit output pada laba per lembar saham, kita kombinasikan persamaan untuk DFL (degree of financial leverage) .
Kita melihat bahwa jumlah biaya financial tetapnya meningkatkan tingkat kombinasi “leverage” diatas tingkat yang didasarkan atas “operating leverage” saja.
Financial leverage dan operating leverage bisa dikombinasikan dalam beberapa cara yang berbeda untuk mendapatkan tingkat “leverage” keseluruhan, financial dan operating yang diinginkan oleh suatu perusahaan. Tingkat risiko keseluruhan yang layak menyangkut antara risiko keseluruhan dan keuntungan yang diharapkan.
Dalam perhitungan analisa financial leverage dibutuhkan adalah obligasi (hutang) dan saham biasa.

2.1.3 Pengertian Earning Per Share
Earning per Share (EPS), rasio ini merupakan rasio yang dapat menerapkan secara lebih jelas mengenai operasional perusahaan, dengan membandingkan antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah saham yang beredar, maka investor akan mengetahui pendapatan per lembar saham perusahaan tersebut, laba bersih setelah pajak ini disebut NIAT (Net Income After Tax).

Laba Bersih
Earning per Share = -----------------------------------------------
Jumlah saham yang beredar

2.1.3.1 Pengertian Saham Biasa
Adalah saham yang tidak mempunyai tanggal jatuh tempo dan tidak mempunyai batas pembayaran deviden.
Berikut ini beberapa jenis saham biasa, yaitu :
 Classified stock
Adalah saham yang diberi tanda khusus seperti kelas A, dan kelas B, dan lain sebagainya untuk memenuhi keperluan khusus perusahaan.
 Founder’s share
Adalah saham yang dimiliki oleh pendiri perusahaan yang mempunyai hak suara tunggal, tetapi mempunyai deviden yang terbatas untuk beberapa tahun tertentu.

2.1.3.2 Karakteristik Saham Biasa
Saham biasa mewakili kepemilikan dalam korporasi (PT Tbk). Pemegang obligasi dapat dianggap sebagai kreditor, sedangkan pemilik saham biasa adalah pemilik perusahaan. Saham biasa tidak mempunyai tanggal jatuh tempo, akan tetapi akan ada sepanjang perusahaan masih berjalan. Saham biasa juga tidak mempunyai batas pembayaran deviden.

2.1.4 Pengertian Indifference Poin dan Alat Analisis yang Digunakan
Indifference points adalah titik dimana earning before interest and tax (EBIT) dapat menghasilkan earning per share (EPS) yang sama pada berbagai alternatif pembelanjaan.
Analisis titik indifference point digunakan untuk menganalisis alternatif sumber dana antara lain saham biasa, obligasi dan saham preferen sehingga dapat diperoleh sumber dana yang menguntungkan bagi perusahaan (Marsh, 1995). Kebutuhan dana suatu perusahaan dapat diperoleh dari penerbitan saham biasa, obligasi dan saham preferen atau bisa juga kombinasi dari sebagian saham biasa dan sebagian lagi saham preferen atau obligasi. Penggunaan sumber dana berasal dari saham preferen dan obligasi memiliki biaya tetap berupa deviden dan bunga.
Untuk mengetahui alternatif sumber dana yang paling menguntungkan diperlukan suatu alat analisis yaitu analisis titik indifference. Cara kerja analisis titik indifference adalah dengan menyamakan alternatif sumber dana. Penggunaan sumber dana yang berasal dari utang atau obligasi dan saham preferen tidak dapat di analisis karena kedua sumber dana tersebut sejajar dan tidak berpotongan.

2.1.5 Tingkat Financial Leverage (Degree of financial leverage-DFL)
Degree of financial leverage merupakan persentase perubahan laba per lembar saham dengan persentase perubahan pendapatan sebelum bunga dan pajak (Marsh, 1995). Kegunaan analisis financial leverage adalah menunjukkan seberapa besar perubahan laba per lembar saham apabila laba sebelum bunga dan pajak berubah.
Rumus untuk menghitung tingkat leverage keuangan (DFL) sebuah perusahaan adalah sebagai berikut :

 EPS / EPS
DFLX = ---------------------
 EBIT / EBIT


Keterangan :
DFLX = Tingkat leverage keuangan pada laba usaha tertentu.
EBIT = Earning Before Interest and Tax (Laba sebelum bunga dan pajak).
EPS = Earning per Share (Laba bersih per lembar saham)


2.2 Kajian Penelitian Sejenis
1. Analisis Fundamental Rasio-Rasio Keuangan dan pengaruh Financial Leverage terhadap Earning per Share (EPS) perusahaan PT. HM. Sampoerna, Tbk., Harry Salim (2005):
Financial leverage menunjukkan perubahan laba per lembar saham atau Earning per Share (EPS) sebagai akibat perubahan EBIT rata-rata sebesar 0,054 memiliki kecenderungan menurun yang tidak signifikan terjadi tahun 2003, terlihat dari turunnya EBIT perusahaan dan Earning per Share. Namun perusahaan juga harus memperhatikan penggunaan sumber dana yang lain selain beban tetapnya.
Tingkat financial leverage mempunyai hubungan positif dan lemah dari hasil penelitian yang didapat ,tingkat financial leveragenya tidak mengalami perubahan maka tingkat pendapatan per lembar saham (EPS) adalah sebesar 300,69 dan jika tingkat financial leverage meningkat satu persatuan maka pendapatan per lembar saham diprediksi akan meningkat dengan tingkat pendapatan per lembar saham (EPS) pada PT. HM. Sampoerna, Tbk. mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap variabel pendapatan per lembar saham.
2. Analisis Fundamental Rasio-rasio keuangan (studi kasus PT. Hero Supermarket, Tbk., Meilasari Iryani (21200165), Akuntansi
Penulis berkesimpulan rasio likuiditas PT. Hero Supermarket, yang ditunjukkan oleh current ratio, cash ratio, quick ratio dan net working capital cenderung menurun selama tahun 1999-2003. ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam kewajiban finansial jangka pendeknya makin menurun (meskipun masih dalam keadaan likuid) yang apabila tidak segera diatasi akan merugikan.
Kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri semakin berkurang selama lima tahun terakhir.
Laba per share (EPS) yang diberikan kepada pemegang saham terus menurun selama lima periode terakhir selain itu juga perusahaan sudah tidak membagikan keuntungan dalam bentuk deviden lagi.

2.3 Alat Analisis
Setelah semua data dan informasi yang dibutuhkan diperoleh, penulis melakukan analisis terhadap data tersebut dengan menggunakan metode indifference point, yaitu:
1. Analisis Deskriptif
Yakni menganalisis masalah dengan cara mendeskripsikannya melalui penggunaan tabel dan gambar.
2. Kuantitatif
Analisis kuantitatif yaitu Adanya perhitungan melalui rumus-rumus yang akan digunakan dalam perhitungan analisis financial leverage untuk meningkat earning per share dengan menggunakan metode indifference point.

2.3.1 Metode Indifference Point
Metode indifference point antara Hutang dengan Saham biasa :
Perbedaan tingkat EBIT akan mempunyai “income effect” yang berbeda terhadap EPS pada berbagai perimbangan pembelanjaan atau “financial mix”. Misalnya pada suatu tingkat EBIT tertentu, suatu perimbangan pembelanjaan hutang-saham biasa 40-60 (atau leverage factor 40%) mempunyai “income effect” yang paling besar terhadap EPS dibandingkan dengan perimbangan yang lain, misalnya 15-85 (leverage factor 15%) atau 0-100 (leverage factor 0%).
Untuk dapat mengetahui perimbangan pembelanjaan yang mempunyai “income effect” yang terbesar terhadap EPS pada setiap tingkat EBIT, maka perlulah ditentukan lebih dahulu “indifference point” antara berbagai perimbangan pembelanjaan tersebut. Analisa “indifference point” ini sering pula disebut “analisa EBIT-EPS”.

X (1 – t) = (x – c) (1 – t)
S1 S2


Keterangan :
X : EBIT pada titik indifference point
C1 : Jumlah bunga obligasi dinyatakan dalam rupiah
T : Tingkat pajak perseroan
S1 : Jumlah lembar saham biasa yang beredar kalau tambahan dana dipenuhi dengan hanya menjual saham baru
S2 : Jumlah lembar saham biasa yang beredar kalau tambahan dana dipenuhi dengan hanya mengeluarkan obligasi baru bersama-sama dengan pengeluaran saham baru.

2.3.2 Langkah-Langkah Perhitungan.
Cara Perhitungan Metode Indifference Point
Antara Hutang dengan Saham Biasa
Alternatif I Hutang 40% Saham Biasa 60% Alternatif II Hutang 15% Saham Biasa 85% Alternatif III Hutang 0% Saham Biasa 100%

Jumlah Dana yang Diperlukan xxx xxx xxx

Dipenuhi dengan:
* Saham Biasa Lembar Saham xxx xxx xxx

(Rp 100/lembar) xxx lbr xxx lbr xxx lbr
*Obligasi xxx xxx -
Diketahui : EBIT = 120000

EBIT xxx xxx xxx
Bunga Obligasi (5% x Obligasi) xxx xxx -

EBT xxx xxx xxx
Pajak Penghasilan (50%) xxx xxx xxx
EAT xxx xxx xxx
EPS= EAT xxx/lbr xxx/lbr xxx/lbr
Jml lbr shm biasa

Dari table di atas maka pada tingkat EBIT Rp. Xxx alternatif yang mempunyai efek pendapatan yang terbesar terhadap EPS adalah alternatif I dan II.

Maka indifference point pada alternatif I dan alternatif III :
x (1 - t) = (x - c) (1 - t)
S1 S2
0,5x = 0,5x (x - C)
xxx xxx
0,5x (S2) = S1(0,5x - C)
Xxx X = xxx X – xxx
Xxx X = xxx
x = xxx
xxx
= xxx Tingkat EBIT pada indifference Point


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian
PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk. Yang berkantor di Gedung Ariobimo Sentral Lantai 12, Jl. H . R. Rasuna Said X-2 kav.5, Jakarta 12950.
Perseroan berkedudukan di Jakarta dan didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma berdasarkan Akta Pendirian No.228 tanggal 14 Agustus 1990 yang diubah dengan Akta No.249 tanggal 15 November 1990 dan yang diubah kembali dengan Akta No.171 tanggal 20 Juni 1991, semuanya dibuat dihadapan Benny Kristanto, SH, Notaris di Jakarta dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C2-2915.HT.01.01 Th.91 tanggal 12 Juli 1991, serta telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dibawah No.579, 580 dan 581 tanggal 5 Agustus 1991. Perseroan mengubah namanya yang semula PT Panganjaya Intikusuma menjadi PT Indofood Sukses Makmur, berdasarkan keputusan Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang dituangkan dakam Akta Risalah Rapat No.51 tanggal 5 Februari 1994 yang dibuat oleh Benny Kristianto, SH., Notaris di Jakarta.
Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur yang memproduksi mi instan yang meliputi pembuatan mi dan pembuatan bumbu mi instan serta pengolahan gandum menjadi tepung terigu. Fasilitas produksi untuk produk mi instan terdiri dari 14 pabrik yang tersebar di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan untuk bumbu mi instan terdiri dari 3 pabrik di pulau Jawa dan untuk pengolahan gandum terdiri dari 2 pabrik di Jakarta dan Surabaya yang didukung oleh 1 pabrik kemasan karung tepung di Citereup.

3.2 Data atau Variabel yang Digunakan
Data-data yang digunakan dalam analisis ini diperoleh dari Laporan Keuangan berupa nilai obligasi, jumlah lembar saham, nilai bunga, dan EBIT (earning before interest and tax) dari PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk. Serta metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode indifference point, metode antara hutang dengan saham biasa .

3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Pengumpulan data, diperoleh melalui :
Penelitian kepustakaan (Library Research), penelitian ini dilakukan diperpustakaan Universitas Gunadarma dan Universitas lainnya dalam rangka mendapatkan data sekunder, yaitu dengan cara mempelajari buku-buku wajib yang berhubungan dengan penulisan ini.
2. Data sekunder
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini diperoleh dari data sekunder. Data sekunder adalah data yang telah ada atau yang telah dikumpulkan pihak lain, dalam hal ini diperoleh melalui Bursa Efek Jakarta dan Website perusahaan tersebut.

3.4 Alat Analisis yang Digunakan
Setelah semua data dan informasi yang dibutuhkan diperoleh, penulis melakukan analisis terhadap data tersebut dengan menggunakan metode indifference point, yaitu:

3.4.1 Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif yaitu Adanya perhitungan melalui rumus-rumus yang akan digunakan dalam perhitungan analisis financial leverage untuk meningkat earning per share dengan menggunakan metode indifference point.

3.4.1.1 Metode Indifference Point Antara Hutang Dengan Saham Biasa
Perbedaan tingkat earning before interest and tax (EBIT) akan mempunyai ”income effect” yang berbeda terhadap earning per share (EPS) pada berbagai perimbangan pembelanjaan atau ”financial mix”. Misalnya pada suatu tingkat earning before interest and tax (EBIT) tertentu, suatu perimbangan pembelanjaan hutang-saham biasa (atau leverage factor) mempunyai ”income effect” yang paling besar terhadap EPS dibandingkan dengan perimbangan yang lain.
Untuk dapat mengetahui perimbangan pembelanjaan yang mana yang mempunyai ”income effect” yang terbesar terhadap earning per share (EPS) pada setiap tingkat earning before interest and tax (EBIT), maka perlulah ditentukan lebih dahulu ”indifference poin” antara berbagai perimbangan pembelanjaan tersebut. Analisa ”indifference point” ini sering pula disebut ”analisa EBIT-EPS”.

x ( 1 –t ) ( X – C ) ( 1 – t )
----------------- = -----------------------
S1 S2

Keterangan :
X : EBIT pada titik indifference point
C1 : Jumlah bunga obligasi dinyatakan dalam rupiah
T : Tingkat pajak perseroan
S1 : Jumlah lembar saham biasa yang beredar kalau tambahan dana dipenuhi dengan hanya menjual saham baru
S2 : Jumlah lembar saham biasa yang beredar kalau tambahan dana dipenuhi dengan hanya mengeluarkan obligasi baru bersama-sama dengan pengeluaran saham baru.

3.4.2 Analisis Deskriftif
Yaitu menganalisis masalah dengan cara mendeskripsikannya melalui penggunaan tabel dan gambar.


Komentar Penulis :

Pada penelitian ini, penulis menjabarkan suatu penulisan riset dengan metode deskriptif. Metode deskriptif ini bertujuan untuk menggambarkan penjabaran tentang data-data yang telah terjadi atau sedang berlangsung. Metode deskriptif terdiri dari macam-macam jenis riset dan salah satunya yang berhubungan dengan penelitian ini adalah riset deskriptif studi kasus,pengertian dari studi kasus itu sendiri menurut Bogdan dan Bikien (1982)merupakan pengujian secara rinci terhadap satu subjek atau satu peristiwa tertentu dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan terperinci.Penulis menggunakan metode tersebut dalam penulisan ilmiah adalah untuk mengetahui peningkatan EPS dan EBIT nya dengan meneliti studi kasus di perusahaan tersebut. RINA INTANI - 27208010

4 komentar:

  1. Benar-benar panjang dan membuat berkeringat membacanya.

    BalasHapus
  2. kita juga punya nih artikel mengenai finansial, silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/2636/1/Ekon-17.pdf
    semoga bermanfaat

    BalasHapus
  3. mbak lulusan mana dan tahun berapa?
    buat rujukan penelitian....

    BalasHapus